SEKILAS INFO
24-05-2019
  • 1 bulan yang lalu / Periode Pendaftaran Santri Baru Tahun Akademik 2019 sudah dibuka… Silahkan melakukan Pendaftaran di menu Daftar…
  • 1 bulan yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Pondok Pesantren Liabuku…..
27
Apr 2019
0
Kenapa Namanya Persemaian Guru-Guru Islam ?

Menyemai artinya adalah memprersiapkan bibit. Bisa jadi dari benih, dari biji, atau dari semaian lain dalam bentuk bibit yang penting. Menanamnya harus extra hati-hati, karena jika tidak, maka hasilnya tidak akan tmbuh bibit yang bagus. Harus dirawat, senadinya tidak dirawat, maka tentu akan ada yang mati sehingg tidak optimal tumbuh sebagai bibit. Harus dijaga biar biji yang disemai tadi tidak dimakan ayam sehingga makah tidak menjadi bibit. Itupun harus disadarai, bahwa ada sebagian benih yang kita semai tidak berbuah menjadi bibit yang siap tanam. Bibit yang siap tanam sekalipun ternyata tidak bisa tumbuh menjadi pohon yang baik. Ada yang dimakan hama, ada yang rusak karena cuaca, ada yang rusak karena banjir, ada juga yang rusak karena kekurangan nutrisi. Daintara semua benih yang disemai, ternyata tidak terlalu banyak yang menjadi pohon yang rindang, bebuah lebat dan memberika kerimbuanan. Tapi dari pohon yang berbuah lebat inilah kelak bisa di semai lagi benih-benih yang baru yang siap menjadi pohon penerus pohon sesudahnya.

Kalau persemaian, maka disitulah tempat membentuk benih itu menjadi bibit. Baru bibit ya, belum jadi pohon. Kuliiyatu Muallimin Al-Islamiyah (KMI) adalah sebuah system pendidikan yang bermakna persemaian Guru-guru Islam. Benihnya adalah para santri ini. Mereka adalah benih-benih yang dipersiapkan untuk menjadi bibit Guru-Guru Islam di daerahnya masing-masing. Di persemaian inilah para santri dipelihara, dididik, dibina, diarahkan, di asingkan, dijaga dari semua penyakit. Itupun tidak sempurna semuanya, karena ada yang tidak tmbuh menjadi bibit. Ada yang tidak betah di pondok, lalu pulang. Ada yang melakukan pelanggaran, dipulangkan, ada yang sudah merasa jadi bibit, bisa pidato, bisa organisasi, merasa bisa, lalu merasa puas, lalu pulang. Ada yang kena pengaruh teman-temannya di luar, lalu pulang. Dan banyak hal yang lain yang membuat benih-benih ini tidak tumbuh menjadi bibit yang sempurna.

Kelak ketika para santri ini menjadi bibit, maka dia belumlah menjadi pohon. Orang tua, lingkungan, dan pengalamanlah yang akan membuatnya menjadi orang yang bermanfaat, menjadi pohon yang siap guna. Tanah yang digunakan untuk menenam bibit ini, haruslah subur dan sesuai. Tidak akan tumbuh pohon apel di tepi pantai, sebagaimana pohon bakau tidak akan tumbuh diatas Gunung.

Demikian juga lingkungan, seorang yang dididik di lingkunag pesantren, tapi hidup di lingkunagn yang kurang kondusif juga tidak akan berubah kondisinya setelah hidup di pesantren. Lingkunagnlah yang mengajarinya. Orang tua yang menanam bibit ini juga harus extra hati-hati menjaganya agar dia tumbuh menjadi pohon . Kalau terlalku banyak air, orang tua harus menguranginya. Kalau terlalu terkena panas, orang tua harus memayunginya. Kalau cucaca sedang tidak baik, orang tua harus menyelamatkannya. Jadi peran orang tua disini masih sangat penting setelah santri keluar dari persemaian. Jangan dilepas begitu saja, jangan dibiarkan demikian juga, tapi jaga pelihara, rawat bibit ini baik-baik,biar tumbuh menjadi pohon yang bisa diambil buahnya.

Jadi lulusan pondok disini, tidaklah bisa langsung kita lihat hasilnya ketika dia keluar dari pondok pesantren. Barangkali memang sudah bisa bahasa Arab, bisa berpidato, bisa berorganisasi, bisa menjadi pengajar di mushola kecil, tapi percayalah mereka itu belum siap menjadi pohon. Maka orang tualah yang saat itu menjadi petani bagi bibit-bibit itu. Sayang, kalau benih yang sudah menjadi bibit yang siap tanam itu, lalu terkulai tanpa daya karena sesuatu karena kita tidak perduli dan percaya bahwa bibit dari pondok pasti bermutu.

Sayang memang, para santri yang belum siap menjadi pohon ini harus salah jalan, karena orang tuanya terlalu percaya bahwa santri pesantren ini bisa berbuat apa saja. Padahal yang mereka jadikan patokan adalah alumni yang memang sudah menjadi pohon, yang berbuah dan menjadi peneduh bagi orang dibawahnya. Maka itu jangan berhenti berdoa jangan istirahat berusaha, jangan hentikan ikhtiar kita, agar anak-anak kita betul-betul tumbuh menjadi generasi yang berguna, bermanfaat bagi orang lain, dan mampu melindungi orang yang meminta bantuan kepadanya. Bismillah…

Jangan Terlalu Peraya kepada Pondok
Jangan pula setengah-setengah kepada Pondok

Tetap Ikhtiar…berusaha..optimal…Ikhlas…

 

Diambil dariĀ  https://www.facebook.com/groups/darussalamgontor/permalink/2125128117604254/

Print Friendly, PDF & Email

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Galeri Video

Website Ponpes Liabuku

Ini adalah website resmi Pondok Pesantren Liabuku dengan template dan desain baru. Anda dapat menemukan informasi lebih lanjut tentang Pondok Pesantren Liabuku di website ini.

Ponpes Liabuku

%d bloggers like this: