•   Jumat, 13 Desember 2019
09
Oktober
2019

TUJUH ALASAN MENGAPA MEMILIH PESANTREN

Katagori Artikel Guru | Post By Admin | 370  di lihat
Print Friendly and PDF

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia pesantren mengalami perkembangan yang sangat pesat. Animo masyarakat untuk memasukkan anak ke pesantren semakin lama semakin besar. Didukung oleh kebijakan Pemerintah untuk mendukung dan mengembangkan pesantren, perkembangan itu semakin terasa. Terbaru, kedudukan pesantren semakin mendapatkan tempat dengan disahkannya Undang-Undang Pesantren pada tahun 2019 ini.

Mengapa pesantren menjadi alternatif pendidikan di antara lembaga-lembaga pendidikan lain? Beberapa hal di antaranya adalah:

PERTAMA, pesantren sudah teruji. Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Banyak pesantren didirikan sudah sejak zaman dahulu kala. Pesantren Tegalsari di Ponorogo misalnya, berdiri sejak tahun 1700an masehi. Dan banyak lagi pesantren tua lainnya. Setelah itu, banyak pesantren berdiri, dengan berbagai ragamnya, hingga tahun 2019 ini berjumlah sekitar 29.000 pesantren di seluruh Indonesia.

Bukan hanya karena faktor waktu yang membuat pesantren teruji, tetapi mereka selama ini mengembangkan pola pengasuhan yang mandiri. Mandiri dalam arti mereka bebas mengelola pesantren dengan sistem yang diciptakannya sendiri. Kemandirian ini menjadi penting karena memudahkan pesantren dalam proses pengelolaan pendidikan.

KEDUA, sistem asrama 24 jam. Sistem asrama memungkinkan pesantren mendidik santri dengan sepenuhnya. Kelemahan sistem pendidikan di sekolah biasa adalah karena terpisahnya sistem pendidikan di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Akibatnya, seringkali antara nilai-nilai yang ada di sekolah tidak sejalan dengan nilai-nilai yang ada pada masyarakat dan keluarga. Akibatnya, nilai-nilai tersebut tidak bisa menginternal dalam diri seseorang.

Pesantren menyatukan nilai-nilai yang ada di sekolah, keluarga dan masyarakat menjadi satu kesatuan sehingga memudahkan pesantren untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan kepada para santrinya. Bahkan, menariknya, mata pelajaran yang ada di pesantren ditujukan bukan hanya untuk memberi keilmuan kepada para santri, tetapi adalah juga untuk proses pendidikan mereka.

Setiap pelajaran yang diajarkan di pesantren bukan hanya diajarkan sebagai ilmu, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika berbicara tentang kerja keras, kesabaran, keikhlasan, logika, dan berbagai ilmu pengetahuan lainnya, semuanya dididik untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mengapa bisa dipraktikkan? Karena sistem asrama 24 jam menjadikan pesantren seperti miniatur kehidupan masyarakat sehari-hari. Maka nilai-nilai keagamaan bukan hanya dipraktikkan, tetapi dibiasakan. Di sinilah, para sanri tidak hanya diajarkan bahwa shalat itu wajib, tetapi mereka dibiasakan untuk shalat berjamaah setiap waktu. Begitu juga pembiasaan ibadah

KETIGA, pesantren mengajarkan santri untuk disiplin, mandiri, menjadi pemimpin, dan punya karakter hebat. Banyak faktor yang membuat orang bisa maju, berkembang, dan sukses. Salah satu yang paling penting adalah karakter. Pesantren adalah lembaga pendidikan yang memungkinkan pendidikan karakter dilaksanakan secara maksimal.

Banyak karakter hebat diajarkan, dididik, dan dipraktikkan di pesantren. Mulai dari kemandirian, kesederhanaan, kemampuan kerjasama, kepemimpinan, berogranisasi, disiplin, kedisiplinan, dan sebagainya. Semuanya membentuk santri menjadi pribadi hebat.

Bagaimana karakter hebat itu diajarkan di pesantren? Mereka dididik berkarakter hebat dengan cara melibatkan langsung dalam berbagai organisasi santri. Berbagai kebutuhan pesantren diurus oleh para santri. Walaupun setingkat pendidikan SMA, para santri ini sudah diajarkan mengurus kebutuhan dapur, koperasi pelajar, kantin, laundry, keamanan, pramuka, olah raga, dan berbagai urusan lainnya. Urusan keuangan organisasi, mulai puluhan ribu hingga milyaran diurus juga oleh para santri.

Pengalaman mengelola organisasi akan menjadi penting bagi para santri. Mereka belajar bekerja sama, membuat target, dan mewujudkan target-target itu dengan sebaik-baiknya. Bahkan, mereka juga belajar untuk berkompetisi secara sehat antara satu klub dengan klub yang lain. Pesantren memberikan berbagai tantangan kehidupan bagi para santri agar mereka tumbuh menjadi orang-orang yang kuat dan tangguh.

Bagaimana dengan orang-orang yang tidak mendapatkan kesempatan menjadi pengurus organisasi, karena keterbatasan kesempatan dengan jumlah santri yang banyak? Mereka tetap mendapatkan pendidikan berorganisasi, karena apa yang mereka lihat, rasakan, dan lakukan semuanya adalah pendidikan.

KEEMPAT, integrasi keilmuan agama dan umum. Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan untuk bekal pribadi santri. Mereka juga diajarkan keilmuan dan keterampilan umum sebagai modal bagi kehidupan mereka setelah lulus dari pesantren.

Maka para lulusan pesantren ini bisa bersaing dengan lulusan umum pada berbagai bidang. Mereka bisa melanjutkan ke perguruan tinggi sesuai dengan keinginan mereka, baik di perguruan tinggi umum maupun perguruan tinggi agama.

KELIMA, bisa memilih model pesantren sesuai kebutuhan. Sekarang ini, model pendidikan pesantren sangat beragam. Sebut saja sistem pertama adalah pesantren salafiyah yang lebih banyak mengajarkan kitab kuning (kitab turots, dinamakan kitab kuning karena kebetulan kertas untuk mencetaknya berwarna kuning. Sekarang ini lebih banyak berwarna putih ataupun book paper). Pesantren salafiyah sendiri sekarang sudah banyak berkembang dengan mengajarkan keilmuan umum.

Sistem kedua adalah pesantren modern. Pesantren modern mengembangkan kurikulum mandiri dengan pendekatan sistem yang lebih modern. Pola pengasuhan mengadopsi sistem asrama modern dengan disiplin dan aturan yang memang ditujukan untuk membentuk karakter santri. Sistem pengajarannya bisa dengan kurikulum “Muallimin” ala Gontor, MTs-Aliyah, ataupun SMP-SMA.

Sistem ketiga adalah pesantren tahfizh. Ini adalah pesantren yang mengkhususkan untuk program menghapal Al-Qur’an. Pola pendidikan dan pengajaran di pesantren tahfizh juga bermacam-macam. Ada yang murni tahfizh, ada yang memadukan dengan konsep “muallimin” ala Gontor, memadukan dengan sistem MTs-Aliyah, ataupun SMP-SMA.
Begitulah tiga sistem besar yang sekarang ini mewarnai pesantren di Indonesia. Tentu bisa jadi ada sistem lain yang tidak termasuk ke dalam tiga sistem di atas karena sistem pesantren yang bersifat mandiri.

KEENAM, mengembangkan jaringan nasional dan internasional. Para santri berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan beberapa pesantren ada santrinya berasal dari mancanegara. Keberadaan para santri dari berbagai daerah ini merupakan aset besar yang sangat bermanfaat bagi para santri, terutama pada saat nanti setelah lulus.

Jaringan alumni ini akan membentuk potensi kerjasama yang besar, terutama pada saat setelah lulus. Mereka bekerja di berbagai tempat yang memungkinkan kerjasama pada berbagai sektor. Jaringan inilah yang menjadi keuntungan besar bagi para santri dan alumni.

KETUJUH, Undang-Undang Pesantren tahun 2019 membuat keberadaan pesantren diakui sebagai bagian dari pendidikan nasional. Penyetaraan dan pengakuan ini penting agar memudahkan para santri pada saat meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Beberapa tahun yang lalu, keberadaan pesantren masih sempat dipertanyakan karena beberapa perguruan tinggi menolak lulusan pesantren untuk meneruskan studi di lembaga mereka. Adanya UU Pesantren memperjelas status dan memungkinkan lulusan pesantren bisa kuliah di Perguruan Tinggi manapun yang mereka inginkan. Tinggal bagaimana para lulusan ini mempersiapkan diri agar bisa diterima di Perguruan Tinggi idaman.

Begitulah tujuh alasan mengapa memilih pesantren sebagai alternatif pendidikan. Semoga bermanfaat.


Oleh Akbar Zainudin
Alumnus Gontor tahun 1991, Penulis Buku Man Jadda Wajada.