•   Minggu, 26 Januari 2020
18
Desember
2019

Karakter: Indikator Penilaian di Pondok Pesantren

Katagori Artikel Guru | Post By Admin | 44  di lihat
Print Friendly and PDF

Karakter: Indikator Penilaian di Pondok Pesantren

Oleh: Dian Puspita Sari Habib, S.Hum., M.A.

Sosok Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dengan ide-ide barunya dalam dunia pendidikan di Indonesia, akhir-akhir ini kerap menjadi headline pada beberapa pemberitaan media massa. Hal ini disebabkan peraturan-peraturan baru yang disusun olehnya. Pada tulisan ini, saya tidak hendak membahas pro-kontra atas kebijakan yang disusun oleh bapak Nadiem Makarim, melainkan saya tertarik mengulas mengenai poin-poin yang menjadi syarat kelulusan peserta didik yang tertulis pada Permendikbud nomor 43 tahun 2019. Terdapat tiga syarat kelulusan yang ditetapkan dalam Permendikbud itu meliputi: (1) Menyelesaikan seluruh program pembelajaran; (2) Memperoleh nilai sikap/perilaku minimal baik; dan (3) Mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan. Pada pasal yang sama di ayat kedua disampaikan kelulusan peserta didik ditetapkan oleh satuan/program pendidikan atau sekolah bersangkutan. Perilaku atau karakter menjadi indikator penting dalam penilaian.

Barometer kelulusan yang mengacu pada nilai sikap anak-anak didik inilah yang menginspirasi lahirnya tulisan ini. Jauh sebelum bapak Nadiem Makarim dilantik sebagai Menteri Pendidikan, sistem pendidikan Al-Amanah tempat saya mengabdi saat ini telah menjadikan nilai perilaku dan karakter sebagai indikator kelulusan peserta didik. Bahkan nilai sikap tersebut sudah diberlakukan sejak awal Pesantren kami didirikan. Hal ini karena para guru yakin bahwa kecerdasan intelektual saja tidak dapat menjadi ukuran kesuksesan peserta didik tanpa dibarengi dengan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.

Oleh karena itu, sistem penilaian yang diberlakukan di pondok Al-Amanah mencakup 3 jenis yakni Keterampilan yang mencakup (nilai Praktek), Pengetahuan (nilai tugas, nilai hasil ujian, dan nilai ulangan harian), Sikap (Disiplin, Kebersihan, Ketaatan, Kreatifitas, dan tanggung jawab).


Pada gambar tersebut dapat kita lihat kriteria penilaian sikap terdiri dari beberapa poin. Nilai sikap tersebut diisi oleh setiap guru, satu pelajaran berarti satu kali mengisi nilai sikap yang terdiri dari lima poin tersebut, dua mata pelajaran yang diampu berarti dua kali mengisi nilai sikap, demikian seterusnya, sesuai berapa mata pelajaran yang diampu oleh pengajar tersebut. Bayangkan, jika seorang pengajar memiliki tiga mata pelajaran yang diampu dalam satu kelas, berarti ia harus mengisi tiga kali nilai Sikap. Itu artinya nilai Sikap melampaui nilai materi mata pelajaran yang diujikan. Contoh Guru A mengajar tiga mata pelajaran, Hadist, Biologi dan Matematika pada kelas 1B. Itu berarti guru A tersebut akan menginput nilai sikap tiga kali lima pada anak-anak didik yang sama atau pada anak-anak kelas 1B (Tiga mata pelajaran dikali lima poin penilaian sikap). Hasil dari semua penilaian ujian setiap peserta didik jika diakumulasikan dengan nilai sikap, maka yang memperoleh nilai tertinggi dari anak-anak didik tersebut adalah yang nilai Sikapnya lebih baik dari yang lainnya.

Kita dapat mengambil kesimpulan di Pondok Al-Amanah, kecerdasan intelektual semata tidak menjadi jaminan baiknya nilai yang akan diperoleh oleh siswa, melainkan itu harus dibarengi dengan kebaikan nilai Sikap. Hal inilah yang saat ini sedang direncanakan pengaplikasiannya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam konteks luas yakni Negara Indonesia guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Kita bersyukur apa yang masih direncanakan tersebut sudah kita jalankan jauh sebelum ide tersebut muncul dipermukaan dan diperbincangkan. Dalam rapat mingguan (setiap kamis), Pimpinan Pondok kerapkali mengingatkan agar penilaian sikap ini berjalan lancar, setiap guru harus memiliki catatan untuk setiap anak didik. Dari catatan guru tersebut kita dapat memantau perkembangan santri dan santriwati. Oleh karena itu, pendekatan terhadap anak didik itu penting, karena untuk mengetahui sikap setiap anak tidak hanya dengan mengenal nama semata, sehingga dapat dikatakan sekedar tau nama peserta didik saja tidak cukup untuk dapat mengetahui sikap setiap anak melainkan guru harus mengenal kondisi dan keadaan setiap anak yang diajar dan itu diwujudkan dengan pendekatan terhadap siswa. 


“Weakness of attitude becomes Weakness of Character”

                                                                          Albert Einstein